Minggu, 03 Maret 2013

Anak Muda Bukan Penonton Dalam Pembangunan Di Daerahnya


Ibarat sebuah permainan, dalam sebuah pembangunan daerah khususnya pembangunan di bidang ekonomi, pemuda masih menjadi penonton. Mereka belum bisa masuk ke dalam ranah permainan sebagai tim yang bermain dan berstrategi untuk menyajikan sebuah permaian cantik kemudian meraih kemenangan.


Kecamatan Gayam Kab. Bojonegoro yang baru berdiri pada pertengahan tahun 2012 merupakan pemekaran dari wilayah Kecamatan Ngasem. Wilayah Kecamatan Gayam adalah tempat di mana ekplorasi minyak dan gas dibangun oleh Mobil Cepu Limmited yang merupakan anak perusahaan dari Exxon Mobil. Keberadaan ekplorasi minyak dan gas di wilayah tersebut telah mengubah kawasan gersang tersebut menjadi kawasan yang sarat dengan pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, masyarakat di sekitar wilayah tersebut yang bercorak masyarakat agraris, kehilangan banyak lahan sebagai elemen penting bagi perekonomian mereka.

Komposisi anak muda dengan rentang usia 15-25 tahun di wilayah tersebut merupakan komposisi penduduk paling banyak dibanding dengan rentang usia lainnya. Rentang usia tersebut merupakan usia produktif di mana dalam rentang usia tersebut idealnya digunakan sebagai waktu belajar dan bekerja.

Mobilisasi perkembangan daerah tersebut menjadi daerah ekplorasi minyak telah membawa perubahan dalam cara pandang sebagian besar pemuda. Mayoritas dari mereka ingin bekerja dalam proyek-proyek pembangunan sarana ekplorasi yang sifatnya temporal. Hampir tidak ditemukan kegiatan usaha mandiri yang dilakukan oleh pemuda-pemudi di wilayah tersebut.

Tingkat pertumbuhan angkatan kerja yang ada saat ini tidak diimbangi oleh pertumbuhan lapangan kerja yang tersedia. Hal ini tentu saja akan membawa berbagai dampak yang kurang positif terhadap anak muda. Sementara itu lapangan kerja non-sektor migas masih didominasi oleh mereka yang memiliki rentang usia 30-45 tahun. Jika kita membuat pengelompokan usia produktif dengan rentang usia 15-25 tahun, maka rentang usia itulah yang saat ini menjadi kelompok pengangguran paling besar.

Meski usaha kecil mampu menopang perekonomian sebuah negara berkembang, namun pada kenyataannya dorongan untuk melakukan sebuah inovasi usaha belum banyak terlihat dari sudut anak muda (15-25 tahun). Adapun jika kita menemukan anak muda yang kreatif dan telah memiliki usaha lebih banyak didominasi oleh mereka yang memiliki latar belakang pendidikan tinggi dan mereka yang menerima turunan usaha dari keluarga.

Banyak faktor yang menjadikan anak muda tidak memiliki kemampuan untuk menciptakan usaha, faktor dominan yang penulis lihat dalam pengamatan di antaranya adalah:

1.       Tidak adanya pemahaman tentang kewirausahaan;
2.       Faktor lingkungan yang melihat bekerja di sektor formal lebih memiliki status sosial;
3.       Kurangnya daya saing produk dari usaha pemuda;
4.       Kurangnya pemahaman pasar;
5.       Tidak adanya akses terhadap permodalan.

Kelima faktor di atas jika kita kelompokan terdiri dari faktor internal dan eksternal anak muda dan juga faktor sosial-psycho pemuda. Pemuda yang kami temui di Kecamatan Gayam lebih memilih bekerja di sektor non-formal dari pada menjadi pelaku ekonomi di daerahnya. Padahal daerah mereka merupakan daerah dengan pertumbuhan ekonomi sangat cepat dalam dua tahun terakhir ini. Pesatnya kemajuan daerah mereka tidak terlepas dari ditemukannya sumber cadangan minyak yang diekplorasi oleh Mobil Cepu Limited (MCL).

Kesempatan untuk menjadi pelaku ekonomi bagi pemuda sebenarnya sangat terbuka luas, namun kesempatan itu lebih banyak dibaca oleh pelaku usaha dari daerah luar. Jika pun ada, kesempatan itu masih terbatas pada mereka yang memiliki power secara politis. Meski akses politis dapat sedikit membengkokan kaidah ekonomi, namun jika pemuda sanggup membuat produk yang lebih unggul dan berkualitas dengan mempertimbangkan sasaran pasar, tentu akan datang sebagai penguasa pasar.

Ada sebuah pandangan umum bahwa jika dapat bekerja di sektor pembangunan proyek ekplorasi merupakan sebuah kebanggaan, meski mereka hanya terlibat dalam pekerjaan yang non-skill dan temporer. Mereka yang berkesempatan bekerja di proyek akan segera memamerkan keberasilannya dengan mengambil kredit motor dengan jangka cicilan yang cukup panjang. Penampilan dari para pemuda yang berkesempatan bekerja di proyek inilah yang membuat para pemuda lain sangat bermimpi untuk dapat meraih hal yang sama dengan cara sama pula. Padahal, peluang untuk dapat hidup layak sangat mungkin dengan jalan menjadi pelaku ekonomi.

Seperti telah disinggung di atas, kredit motor yang dilakukan pemuda yang tidak seimbang antara tempo kontrak kerja dengan tempo cicilan motor telah banyak membawa permasalahan tersendiri bagi anak muda yang juga berdampak pada keluarga. Cicilan yang masih panjang sedangkan pendapatan berhenti seiring habisnya kontrak kerja, banyak dari mereka kembali menjual tanah pertanian keluarga mereka. Padahal  sebagian dari mereka sangat mengandalkan perekonomian dari sektor pertanian, dan tentu ini  segera membawa wajah baru kemiskinan.

Hampir setiap desa di Kecamatan Gayam memiliki Badan Keungan Desa (BKD) dan Kopwan, namun tidak satu orang pun pemuda yan menjadi anggota di lembaga tersebut. Ini berarti anak muda masih termarjinalkan untuk dapat mengakses permodalan yang banyak disokong oleh pemerintah; Jika pemerintah saja tidak terpikirkan untuk memfasilitasi modal bagi pemuda, apalagi swasta yang lebih selektif dalam memperhitungkan resiko.

Masalah Sosial Pemuda

Sementara ini, kegiatan yang dilakukan oleh pemuda berdasarkan pengamatan penulis hanya terbatas pada kegiatan kurang menguntungkan atau membuang waktu seperti kumpul-kumpul di warung kopi, Konvoi sepeda motor, billiard, dan kegiatan olah raga. Dalam kegiatan produktif, seperti pembangunan desa dan kegiatan berorientasi ekonomi keterlibatan pemuda di daerah tersebut sangatlah minim. Adapun kegiatan yang berorientasi sosial seperti karang taruna terbatas dalam event-event insidental seperti pada peringatan HUT-RI.

Literasi Pemimpin Pemuda

Merupakan sebuah permasalahan yang tidak bisa dianggap remeh yang sedang meliputi pemuda, mereka selalu menjadikan pemuda dari klan terkuat sebagai panutan dalam pergerakan mereka, meski ada ide pergerakan positif digagas oleh pemuda lain, namun jika tokoh sentral tidak berkenan, maka pemuda lainnya tidak akan berani mempertahankan opini apalagi menjalankannya.

Maka dari itu, model kepemimpinan konstruktif juga penting bagi pemuda. Tetapi yang lebih penting lagi adalah bahwa perubahan itu sendiri menjadi peranan teladan di semua tingkat, dari pada berfokus pada tokoh populer penting. Dengan cara demikian siapa saja yang menyebabkan perubahan bisa menjadi peranan teladan.

Keterampilan Pemuda

Industri minyak telah membawa fantasi tersendiri bagi pemuda di sekitarnya, kemudian mendorong mereka pada harapan akan pekerjaan yang tidak realistis di antara pemuda. Selanjutnya, kekurangan informasi telah mendorong pemuda ke dalam program pelatihan “popular”, seperti komputer, yang mana permintaannya terbatas, atau pada pelatihan yang kebutuhannya bersifat temporer seperti pelatihan safety dan sekapholding.
 
Pentingnya faktor-faktor dari segi permintaan tidak dapat dinilai rendah. Tanpa upaya untuk mendorong sektor pertanian dan sektor swasta non-migas, mengurangi pita merah birokrasi, perluasan sektor jasa, dan meningkatkan belanja pendatang akan warga sekitar, segala intervensi yang yang menargetkan kemungkinan untuk mempekerjakan pemuda atau efisiensi pasar buruh akan memiliki dampak terbatas. Setelah hal tersebut dilaksanakan, adalah menentukan bahwa segala analisis pengangguran pemuda harus ditinjau melalui pendekatan secara holistis dan realistis dengan mempertimbangkan relatifitas dari kekuatan dan kelemahan dinamika ekonomi dan pasar buruh di Bojonegoro.

Saya melihat bahwa sudah beberapa tahun ada pelatihan kejuruan yang didukung oleh MCL dengan pelaksana beberapa NGO yang pernah menjadi mitra. Akan tetapi hal ini tidak diterjemahkan menjadi kegiatan rekonstruksi dan rehabilitasi. Oleh karena tidak ada lapangan pekerjaan, tidak ada pekerjaan. Sekali lagi program-program pelatihan perlu diselaraskan dengan kesempatan ekonomi yang realistis, misalnya meningkatkan produktivitas pertanian dan ternak, sektor jasa, meubelir, tehnik bangunan. Saya pernah berkunjung terhadap kelompok pemudi yang membuat handycraft untuk kepentingan simulasi belajar PAUD dan souvenir, tetapi tidak ada pasar untuk hasil kerja mereka. Apresiasi dalam sikap konsumsi  berbagai pihak seperti swasta, pemerintah dan NGO adalah penting untuk meningkatkan kemampuan produksi serta kesempatan pasar bagi mereka.


READ MORE - Anak Muda Bukan Penonton Dalam Pembangunan Di Daerahnya

Selasa, 25 Desember 2012

Puisi Jiwa

Aku seperti pemintal kebohongan yang berjuang keras agar tampak benar. Setiap isi kataku ku olah agar tak berbenturan apa yang aku katakan padanya dan pada dia. Kebenaran yang dibuat dari kebohongan ternyata hanya merajut  tenunan hidupku. Kebohongan itu seperti nyata dalam hidupku, menguasai alam sadar dan bawah sadarku.

Aku terperdaya oleh senyumnya yang ranum dan manja, tapi aku juga terlena oleh kematangan dan kesabaran dari dia yang menjadi pertama namun seolah yang kedua. Aku selalu berkata dengan balutan keindahan sutera untuk menutupi belacu yang menjadi isinya. Entah kalian mempercayaiku atau justru kalian tertawa terbahak melihat kehampaanku karena terisi dua jiwa.

Kalian berdua seperti telaga bening kembar di tengah sahara, aku pengembara yang tak mampu menimba. Entah itu karena dasar kalian yang begitu dalam atau malah kalian hanya fatamorgana yang mengaburkan oase yang sedang kucari.

Dengannya, pernah ku ukir namanya dan namaku bersandingan dengan hiasan rerumputan liar pantai samudra hindia. Kami berlari menghindari ombak yang menyapu ukiran pasir kami.

Dengan dia, aku pernah mengeja kehidupan ibukota, dia mengajarkanku untuk tetap bahagia, menemaniku dalam cibiran manusia Jakarta, sehingga aku merasa jadi manusia atau bahkan raja.

Ah kalian……

Kalian tahu aku adalah pemintal kebohongan
Apakah sulaman kata-kataku seperti renda makna yang sulit kalian lupa
Padahal aku tak pernah mengingat semua  

READ MORE - Puisi Jiwa

Sabtu, 27 Oktober 2012

Akar Analisa Usaha (Brainstorming Startup Business)

Gambar di bawah ini saya buat untuk semua orang yang memiliki ketertarikan terhadap dunia usaha, gambar ini sejatinya bukan hanya sebagai teori tetapi sangat mudah menuntun kita dalam hal melakukan langkah-langkah yang harus ditempuh ketika kita akan menjalankan atau masuk ke dalam dunia usaha. Mudah-mudahan ini juga dapat bermanfaat bagi para guru dan tutor yang mengajarkan ilmu kewirausahaan.
READ MORE - Akar Analisa Usaha (Brainstorming Startup Business)

Jumat, 19 Oktober 2012

Mono Dialog

Salam untuk nurani Romdoni

"Kamu telah terlalu sibuk dengan segala beban kerja, sempatkanlah dirimu untuk melihat hal lain yang menyenangkan di luar sana". Dorongan batin itu akhir-akhir ini terus mencoba memprovokasi diri ini agar sedikit keluar dari kepenatan dan beban yang ada.

Jika dulu ketika diriku lebih banyak berjuang dengan tenaga untuk mengejar uang, dunia tulis-menulis adalah tempat rekreasi yang menyenangkan. Kalau bosan dengan itu, mengunjungi perpustakaan atau mengunjungi toko buku adalah alternatif yang tidak kalah ampuh mengusir kepenatan. Tapi kini, hari-hariku dipaksakan untuk selalu membaca dan memahami be-jubel teori dan mereduksinya menjadi materi edukasi bagi teman-teman yang menjadi relasi kerjaku. Huh... Terkadang aku harus memvisualkan apa yang aku baca dan aku pahami agar lebih mudah dimengerti oleh teman-temanku.

Kadang batinku menghakimi diriku, "Kamu ini terlalu perfeksionis"! Aku bukan perfeksionis, aku hanya mencoba mengejar mutu; elakku (yang kadang menang dan sering juga kalah). Konsumsi kafeinku akhir-akhir ini meningkat dua kali lipat, begitupun dengan tembakau; gara-gara seringnya perdebatan itu terjadi.

Aku sadar betul bahwa pekerjaanku saat ini tidak jauh berbeda dengan sekolah, banyak sekali yang aku pelajari. Hari-hariku selalu diisi oleh pengetahuan baru baik itu yang aku dapatkan sendiri maupun hasil sharing dengan teman sejawat.

Hobiku dulu kini telah menjadi rutinitasku. Aku merasa bahwa ada dua entitas batin dalam hidupku yang mereka sama sekali tidak bersatu. Kadang aku membentak satu batinku dengan batinku yang lain, dan kadang aku membentak dengan bahasa lain agar salah satu batinku tidak terlalu tersinggung "I love to laugh and let you watch me laughing. I just want you to know, that could be the happiest laughter I had". Ha....ha....

Ain't none of us are pure sane
and ain't none of us are pure crazy


Ha.....ha.....


READ MORE - Mono Dialog

Sabtu, 21 Juli 2012

Saur Pertama, Membyangkan Menu Oseng-Oseng Mesin ATM


Lama sekali tidak berceloteh di blog ini, entah pernah ada yang berkunjung atau tidak, itu tak terlalu penting. Dalam beberapa bulan ini ternyata diriku disibukan dengan berbagai pekerjaan yang sangat berjubel. Dari mulai membangun akses dengan pemerintah, membangun akses dengan micro finance, sampai dengan perusahaan-perusahaan yang ada di sekitar Bojonegoro. Belum lagi semuanya terbangun, kembali datang work plan bulan berikutnya yang mengharuskan saya untuk melakukan market assessment. Semuanya itu tidak lain adalah buah dari proposal yang sangat sempurna untuk dapat dilirik oleh pihak donor (menurutku terlal muluk).

Dalam rentang satu tahun yang hanya tinggal sekitar tujuh bulan waktu efektif, tim kami yang terdiri dari empat orang harus memenuhi tiga pencapaian program. Pencapaian pertama, ialah membangun jiwa kewirausahaan pemuda di enam desa di Kecamatan Ngasem serta mendampingi mereka dalam hal membangun bisnis. Setelah mereka mendapatkan literasi tentang kewirausahaan, tim kami harus memfasilitasi mereka untuk mendapatkan akses permodalan dari micro finance lokal. Pencapaian kedua, ialah membantu memfasilitasi pemuda yang sedang dalam masa transisi dari sekolah ke dunia kerja. Terakhir adalah membangun jiwa kepemimpinan pemuda agar lebih peka terhadap lingkungan dan penguatan kapasitas karang taruna di desa-desa sasaran kita.

Bisa terbayang dari target capaian tersebut di atas, bagaimana turunan-turunan proses untuk dapat mewujudkannya. Huh…luar biasa! Saya tidak mempunyai latar belakang sebagai ekonom, atau paling tidak mendapatkan kuliah tentang ekonomi, perbangkan, koperasi, wirausaha, perencanaan bisnis, alur kas, dan lain sebagainya. Saya hanya pernah mendampingi kegiatan usaha anak muda pesantren untuk berwirausaha dan membangun kelompok usaha kelas desa yang mendapatkan SIUP dari dinas kabupaten. Selain berkutat dengan teori, istilah, dan konsep-konsep ekonomi; ternyata saya juga masih harus belajar banyak tentang bagaimana penyajian data yang padat sederhana (statistik kuatitatif) namun mumet untuk dikerjakan.
Akibat kombinasi kerja antara lapangan dan ruangan, tidak jarang menghabiskan malam saya untuk mendeskripsikan segala yang saya dapat di siang hari pada malam harinya. Tidak jarang dalam menyajikan temuan lapangan saya harus bertemu pagi sebelum memejamkan mata (ha…ha… teringat seperti pada saat-saat kebut skripsi).  Seperti malam menjelang hari pertama puasa tahun ini misalnya, saya mencicil laporan sampai hampir lupa jika Ramadhan tiba. Oh jika saja ada yang melihat hilal di hari minggu, mungkin kejadian menyebalkan di subuh ini tidak akan terjadi!

Karena panik saat melihat jam yang hampir menunjukan jam 4, saya buru-buru menhidupkan teko listrik saya untuk membuat kopi. Satu hal sudah saya kerjakan. Kemudian merogoh-rogoh saku untuk menemukan uang tunai, ternyata saya sudah tidak mempunyai uang tunai. Dengan terburu saya loncat keluar kamar kos dengan modal satu keping ATM. Tiba di ATM saya segera memasukan kartu saya ke mesin tanpa melihat layar terlebih dahulu. Ketika kartu ditelan, saya baru melihat bahwa layar mesin ATM tidak seperti biasanya. Eror. Saya tekan berbagai tombol berusaha mengeluarkan, namun tak berhasil. Dengan kesal dan panik, saya meluncur menuju kantor cabang bank tersebut. Dengan mimik panik saya melapor pada satpam yang berjaga di sana dan meminta agar ATM saya dapat dikeluarkan dari perut mesin.

“Maaf pak, kami hanya bisa memperoses itu pada hari kerja” tuturnya dengan gaya bahasa halus, namun tidak memuaskan.

Campur aduk untuk memastikan bahwa saldo saya akan aman dan ingatan akan teko listrik yang mungkin airnya sudah kering. “Oh….BUMN kapan kau berubah” gerutuku dalam hati sambil melesat pergi menuju kos.

Benar saja dugaanku, air untuk membuat kopi hampir habis. Aku sempatkan untuk menuangkan air ke adonan kopi yang telah saya buat. Saya mengeluarkan semua kartu ATM yang ada di dompet, takut jika ATM satu bermasalah lagi, saya bisa pindah ke lain ATM tanpa harus balik kos (jangan bertanya kenapa saya hanya membawa kartunya saja, saya sedang mengenkan celana tidur waktu itu). Mesin ATM paling dekat menyediakan uang dengan pecahan Rp. 100.000. Sebenarnya saya lebih senang dengan pecahan Rp. 50.000 karena bisa dibelanjakan di warung kecil tanpa perasaan gak enak. Benar saja dugaanku waktuku terbuang cukup banyak untuk menunggu kembalian dari pemilik warung.

Setibanya di kos, dari salah satu mesjid memberitahu bahwa adzan tinggal lima menit lagi. Pilihan yang sangat membingungkan ketika arus memilih menikmati sebatang rokok dengan kopi atau nasi bungkus? Akhirnya aku harus memutuskan salah satu. Dan ketika celotehan ini ditulis, perutku begitu lapar dan nasi bungkus yang saya beli tadi subuh begitu menggoda. L
READ MORE - Saur Pertama, Membyangkan Menu Oseng-Oseng Mesin ATM

Senin, 21 Mei 2012

Tempat Baru Suasana Baru

Setelah beberapa hari bekerja dengan sedikit kekakuan dan sedikit kebingungan, akhirnya telah ada keputusan untuk pemberangkatan diriku ke tempat kegiatan program, tepatnya Bojonegoro sebuah kota kecil di sebelah barat Surabaya. Selama satu minggu ini, di kantor saya hanya menyiapkan data primer yang saya dapatkan dari internet, tentu saja dengan disesuaikan dengan harapan capaian yang termaktub dalam grand proposal. Saya banyak bertemu dengan banyak orang yang memiliki konsep sangat bagus dalam hal kemanusian beserta kemampuan untuk mengaplikasikannya. banyak dari mereka adalah lulusan universitas-universitas top negeri ini.

Mereka tampak energik dan dinamis dengan sejuta ide kreatif yang siap ditumpahkan dalam sebuah konsep dan program praktis. Berbicara dalam bahasa Inggris seperti menjadi bahasa ibu di kantor ini (sedikit mengebiri kepercayaan diri untuk ikut aktif).

Saya masih sangat senang dengan suasana ruangan dengan mereka yang mampu mengeksplorasi kenyataan menembus batas sekat-sekat furniture yang memisahkan individu dan tim. Kini aku tersadar bahwa kompetisi itu menyenangkan dan menjadikan kita sebagai bagian dari para pengejar perubahan.
READ MORE - Tempat Baru Suasana Baru

Rabu, 02 Mei 2012

Strategi Persuasif Peningkatan Penjualan yang Menyerang Alam Bawah Sadar

He...he.... Judulnya sengaja saya buat sedikit formal dan hiperbol demi peningkatan pengunjung pada blog saya.
Pengalaman menjadi sales, adalah pengalaman yang sangat berharga bagi diri saya. Menjadi sales sama dengan menjadi pembelajar tiada henti, meskipun ada kaidah-kaidah baku untuk pembimbingan penjualan, namun dinamika lapangan menuntut saya untuk menjadi seorang spontanitas yang cerdas. Membaca prilaku seseorang, membaca track bisnis, membaca kondisi sekitar, memperhatikan cuaca, menerawang latar belakang etnis; adalah gabungan analisa yang harus segera saya dapatkan setelah melempar senyum dan mengucapkan “Selamat” seperti “selamat pagi".
Kebiasaan membaca konsumen selagi saya pada posisi penjual, ternyata juga terbawa  ketika saya menjadi konsumen dan mencoba membaca strategi berjualan produsen. Dari hasil pembacaan saya terhadap beberapa swalayan yang saya kunjungi, ternyta ada teknik peningkatan penjualan terhadap konsumenyang jarang disadari oleh konsumen, di antara yang saya temukan adalah: 
1. Memajang Snack dan Permen Di Samping Kasir;
Ini trik tercerdik. Para pengelola memasang snack dan makanan kecil di samping kasir setinggi mata anak balita. Balita yang ikut mengantri dengan orangtua tentu akan sangat tergoda dan meminta kepada orangtuanya untuk dibelikan snack tersebut.
2. Tidak Semua Kasir Aktif;
Ini juga trik cerdik. Dengan jumlah kasir yang sedikit akan mulai terjadi antrian, biasanya pengelola pasar swalayan mempunyai pedoman bahwa panjang antrian harus sejumlah 7-9 orang. Jumlah antrian ini akan membuat pengunjung merasa pusat perbelanjaan tersebut adalah pusat perbelanjaan yang ramai. Selain itu sambil mengantri mereka juga akan melihat-lihat etalase di samping kasir, antrian ini memperbesar kemungkinan mereka untuk membelinya.
3. Ubin Ukuran 30 x 30
Mungkin anda sudah pernah berkunjung ke Ma**o ataupun Af**, harga mereka bersaing, pengunjungnya dulu juga banyak, tetapi mengapa mereka merugi? Jawabannya ada pada ubin mereka. Mereka menggunakan cor semen polos untuk lantai mereka. Hal ini menyebabkan para pengunjung yang berkunjung secara tidak sadar berjalan dengan cepat. Berbeda dengan pesaingnya semacam Hyper***, mereka menggunakan ubin ukuran 30×30, menurut riset inilah ukuran yang paling tepat untuk membuat para pengunjung memperlambat langkah mereka dan menengok kanan kiri, para pengunjung akan memperlambat langkah mereka karena mereka secara tidak sadar mengalami guncangan-guncangan karena roda troli mereka melewati sambungan ubin.
4. Memperbesar Budget Pembeli
Pembeli datang dengan batasan tertentu “Hari ini Cuma boleh belanja Rp 300.000,00”, namun tentu saja pembeli tidak mungkin hanya membawa Rp 300.000,00 kan? Bahkan pada umumnya pembeli juga membawa ATM atau kartu kredit.
Bagaimana cara memperbesar budget pembeli? Ternyata mudah.. Gunakan harga yang tidak pas seperti Rp 12.890,00. Saat kita melihat satu harga seperti ini kita akan langsung sadar bahwa sebenarnya harganya adalah Rp 13.000, rupiah. Namun dengan banyaknya barang yang dbeli (dan seringkali untuk satu jenis tidak hanya satu), secara tidak sadar ketika menjumlahkannya pembeli akan membulatkannya menjadi Rp 12.000,00. Dan ketika membayar prmbeli baru menyadari karena uangnya menjadi kurang.
5. Merubah letak barang-barang secara berkala
Pembeli datang dengan daftar belanjaan. Itulah yang paling ditakuti para pengelola pasar swalayan. Tapi ternyata mereka tidak kekurangan akal. Rotasi saja letak rak-rak secara berkala. Hal ini akan membuat pembeli harus mencari letak barang yang dibeli, saat mencari barang yang akan dibeli tentu saja pembeli juga harus melewati barang-barang lain, di sinilah pikiran pembeli mulai termanipulasi untuk membeli barang yang tidak diperlukan karena terpengaruh tulisan “disc” dan “buy 1 get 1”
Itulah yang saya temukan dari teknik peningkatan penjualan mereka yang sering tidak kita sadari. Satu lagi, senyum perempuan cantik sebagai kasir sering tersenyum dan menawarkan pulsa juga sering mengganggu gengsi saya sebagai laki-laki. Inilah trik pasar yang sempurna di mana bisa menyerang sisi behavior manusia.

Sebagai kata penutup dari saya "jika kamu tahu bahwa konsumen itu bernafsu untuk membeli, maka janganlah terlihat bernafsu untuk menawarkan".
READ MORE - Strategi Persuasif Peningkatan Penjualan yang Menyerang Alam Bawah Sadar